Sekolah Kampung

Ada berapa banyak orang tua yang senang anak-anaknya selalu rapi dan wangi? Pasti banyak. Ada yang begitu rajin hingga sehari bisa lima enam kali menggantikan baju, meminyaki dan membedaki balitanya. Basah sedikit ujung bajunya, ganti. Apalagi banyak. Setiap berkeringat, di lap, dicuci, dibedaki lagi. Lantai kotor sedikit, dilarang lewati, diangkat, dihindarkan. Apalagi kalau keluar pintu rumah, wajib pakai sendal, jika perlu kaus kaki dan bersepatu supaya lebih terjaga.
Anak-anak tidy dan wangi sering jadi icon anak manis terpelajar dan kekotaan. Sebaliknya, balita kucel, lumus, bau matahari, berkaki gelap, berambut pirang karena akrab dengan matahari, yang demikian menjadi gambaran balita yang tidak diurus orangtuanya. Setidaknya begitu kuping saya mendengar mulut ibu-ibu disekitar saya ketika melihat ada anak kecil tak beralas kaki main tanah di jalan gang. "Anak siapaaaa itu, manaaaa jak emaknya."
Apa yang dirasakan kebanyakan orangtua kekotaan ketika di pagi hari telah mewangikan anaknya tapi sampai di sekolah anaknya justru dibiarkan bermain di dalam parit? Di Pontianak belum ada sekolah begitu. Paling kotor, anak-anak berguling di rumput. Tapi di Jogja ada. Beberapa meter di samping belakang tempat si adek bermain tanah ini, ada anak-anak Kelompok Bermain tengah berpesta bahagia di dalam parit.
"Sekolah macam apa kok begitu?" Sekolah biasa, sekolah sederhana, sekolah ditengah sawah, berhalaman tanah, sekolah non formal. "Ooooo, sekolah kampung gitu ya mbak lenny". Iya, sekolah kampung yang sudah dikunjungi tamu tidak kurang dari 40 negara, yang beberapa muridnya ada yang berasal dari Australia, Jepang, Finlandia, Inggris, dan Perancis. Sekolah yang cukup memberi sertifikat saja bagi alumninya, tapi di Universitas Kyoto Jepang bahkan diberi kesempatan menggelar ķarya dari anak-anak sekolah ini pada pameran tahunan yang mereka gelar di Kobe. "Haaaa?!"
Sudah sampai di timelinemu cerita tentang sekolah Waldrof School of Peninsula di Silicon Valley Amerika serikat? Sekolah mahal, sekolahnya anak-anak para karyawan dan petinggi berbagai perusahaan raksasa teknologi digital, seperti Google, Yahoo, Apple, dan Hewlett-Packard. Tahu sekolahnya bagaimana? Tidak ada komputer di sekolah, tidak ada iPad, tablet, maupun telepon genggam. Sekolah itu menggunakan peralatan apa saja; pena, kertas, jarum rajut, pisau, juga lumpur, kecuali perangkat-perangkat teknologi tinggi. Mereka percaya permainan membuat anak-anak bergerak dan berimajinasi dibanding menampilkan gambar dilayar. Anak-anak dari orangtua termodern, bersekolah di sekolah terkampung, dengan membayar SPP termahal.
Di Pontianak, adakah orangtua yang lebih pilih anaknya belajar lewat bermain? Ada. Tapi sedikit. Yang sedikit itu, akan kami tunggu di sekolah kampung kami. Sudah buka tahun ini. Kontak hp dan WA di 081345413363. Alamat sekolah, Canopy Center Jl Purnama 2 no 20 Pontianak.


Comments